Senin, 16 November 2009

Rio de Janeiro tuan rumah Olimpiade 2016

Kopenhagen–Setelah proses melobi yang panjang di hadapan Komite Olimpiade Internasional (IOC), Rio de Janeiro sukses mengalahkan tiga kota besar lainnya untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2016.

“Kini giliran Brasil. Saatnya kita menyampaikan apa yang selama ini membuat dunia tak seimbang. Saatnya menyalakan api olimpiade di negara tropis,” ujar Presiden Brasil Luis Inaco da Silva ketika mendengar pengumuman itu.

IOC memutuskan pada Sabtu (3/10) untuk menggelar Olimpiade ke-31 pada 2016 mendatang di Rio de Janeiro. Kota pantai di Brasil itu merupakan kota wisata paling ramai di Amerika Selatan, yang tenar lewat Pantai Copacabana.

Pada ronde pertama dalam pemungutan suara IOC, seperti dilansir AP, Rio memperoleh 26 suara. Madrid (Spanyol), unggul dengan 28 suara, serta Tokyo (Jepang) dengan 22 suara dan Chicago (AS) yang tersingkir karena hanya 18 suara.

Di ronde kedua, Tokyo terpaksa pulang dengan 20 suara. Sementara Madrid memperoleh 29 dan Rio sudah menguat dengan 46 suara. Keputusan di ronde terakhir lah yang menentukan, di mana Madrid dengan 32 suara kalah telak oleh Rio yang mendapat 66.

7 (Tujuh) Keajaiban Dunia

Berikut ini adalah tujuh keajaiban dunia yang biasanya terdapat di buku-buku pelajaran sekolah :

1. Ka'bah Berada di kota Mekah di negara Saudi Arabia / Arab Saudi
2. Tembok Raksasa Cina Berada di negara RRC / Republik Rakyat China
3. Candi Borobudur Berada di negara Indonesia
4. Menara Eiffel Berada di kota Paris di negara Perancis
5. Colloseum Berada di kota Roma di negara Italia
6. Menara Condong Pisa Berada di kota Pisa di negara Italia
7. Masjid Taj Mahal Berada di negara India

Prestasi Bulutangkis Indonesia Memprihatinkan

Jakarta, (ANTARA News) - Mantan pemain nasional seperti Susi Susanti dan Hermawan Susanto menyatakan prihatin dengan makin merosotnya prestasi bulutangkis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Berbicara kepada ANTARA di sela-sela Kejurnas Bulutangkis Usia Dini "Tetra Pak Open Milk" 2009 di GOR Asia Afrika Senayan, Jakarta, Rabu, Susi mengaku sedih ketika melihat para juniornya sering kalah dari pemain-pemain asing terutama dari Cina, Korsel dan Malaysia dalam berbagai turnamen internasional akhir-akhir ini.

"Yah, tentu sedih, kalau atlet Indonesia selalu kalah," kata pemegang medali emas tunggal putri Olimpiade Barcelona tahun 1992 itu.

Untuk mempertahankan prestasi emas bulutangkis Indonesia di berbagai ajang internasional butuh proses yang lama dan harus sungguh-sungguh.

"Untuk mencetak juara pembinaannya tidak bisa instan. Pemain juga harus jaga konsistensi permainan dan harus selalu memotivasi diri untuk menjadi yang terbaik," kata Susi yang bersuamikan Alan Budikusuma yang juga peraih medali emas tunggal putra Olimpiade Barcelona itu.

Susi mengakui peta kekuatan bulutangkis saat ini masih dikuasai Cina dengan tingkat persaingan yang demikian tinggi di banding dulu saat dirinya masih aktif bermain.

Meski begitu, Susi berharap para pemain Indonesia terus berlatih dengan ekstra keras dan memiliki kemauan yang besar untuk menjadi yang terbaik.

Senada dengan Susi, Hermawan Susanto mengatakan bibit atlet bulutangkis di Indonesia sebetulnya tidak kalah dari Cina, Korsel dan Malaysia.

Namun para pemain junior selama ini jarang dikirim ke luar negeri untuk mengikuti pertandingan internasional.

"Ini yang berbeda dengan zaman kami dulu dimana pemain junior saling berlomba-lomba masuk pelatnas saat pemain senior mulai turun prestasinya," kata Hermawan yang meraih medali perunggu tunggal putra saat Olimpiade Barcelona tahun 1992.

Menurut Hermawan, pemain pelapis Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso dan Tommy Sugiarto harus disiapkan sekitar enam hingga delapan orang.

Setiap pemain pelatnas, katanya, harus terus mengevaluasi diri kelebihan dan kekurangan untuk bisa mencetak prestasi yang lebih tinggi.

"Jangan sekedar main lalu kalah dan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Pemain muda harus dikirim ke kejuaraan-kejuaraan internasional supaya regenerasi pemain tidak putus," kata Hermawan yang kini menjadi pelatih di klub Aufa Depok.

"Mudah-mudahan kita tidak terpuruk terus. Dari dulu Indonesia ditakuti oleh negara lain dalam olahraga bulutangkis. Kita harus tetap mempertahankan Indonesia sebagai maestro bulutangkis dunia," tambah Hermawan sembari berharap dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan Indonesia mampu mengejar ketinggalan dari negara lain seperti Cina, Korsel dan Malaysia. (*)

Christian Hadinata Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia

Nama Christian Hadinata layak menjadi simbol kekuatan bulutangkis Indonesia. Dia adalah legenda hidup yang berhasil mengukir prestasi internasional baik ketika menjadi pemain, pelatih, maupun saat ini sebagai pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

Lahir di Purwokerto, 11 Desember 1949, Christian tidak menyangka akan menjadi pebulutangkis andal. Waktu kecil, cita-citanya justru menjadi pemain sepakbola. Sebagai keluarga sederhana, Christian merasa bulutangkis adalah olahraga yang mahal. Untuk bermain diperlukan raket, senar, sepatu, dan suttlekock. Hal itu belum ditambah dengan biaya menyewa tempat latihan.

Sampai lulus SMA di Purwokerto, Christian belum tertarik dengan bulutangkis. Padahal, saat itu usianya sudah 16 tahun, usia yang cukup tua untuk memulai olahraga sebagai prestasi. Bandingkan misalnya dengan Michael Owen yang sejak balita sudah muali menendang bola dan sebelum menginjak 17 tahun sudah mulai debut sebagai pemain profesional bersama klub Liverpool. Atau, Wayne Rooney yang bergabung dalam klub Everton di usia 17 tahun telah dipercaya pelatih nasional kesebelasan Inggris Sven Goran Erricson untuk membela The Three Lions.

Setelah lulus SMA, Christian diajak kakak sulungnya tinggal di Bandung. Di sanalah ia dimodali sang kakak untuk bermain bulutangkis, dan ia pun masuk klub Mutiara. Suatu kali ia diajak kakak sulungnya itu ke Jembatan Semanggi (Jakarta) untuk melihat Stadion Senayan. Ketika ia ingin mendekat menuju Stadion itu, kakaknya bilang, "Sudah, dari jauh saja, nanti juga engkau akan ke sana."

Prestasi emas Christian dicetak pertama kali tahun 1971 sebagai pemain ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari menjadi juara nasional. Sedangkan di ganda campuran menjadi juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.

Selanjutnya, dengan bergabti-ganti pasangan, Christian dapat mencapai prestasi terbaik seperti dengan Ade Chandra, menjuarai Asian Games 1978, All England 1972 dan 1973, serta juara dunia 1980. Bersama Boby Ertanto juara di All England 1983 dan Indonesia Terbuka 1984. Dengan Lius Pongoh menang di Jepang Terbuka 1981. Berpasangan dengan Imelda Wiguna memenangi All England 1979 dan juara dunia 1980. Main bersama Ivana Lie berjaya di Asian Games 1982, Indonesia Terbuka 1984, dan Piala Dunia 1985. Sepanjang enam kali memperkuat Tim Piala Thomas (1972-1986), Christian bersama pasangannya (siapa pun dia) selalu merebut poin. Di ajang beregu itu Christian pernah berjodoh dengan Hadibowo dan Liem Swie King.

Pada tahun 1986 atau dalam usia 37 tahun Christian pensiun sebagai pemain. Usia 37 adalah usia yang cukup tua untuk ukuran atlet bulutangkis. Hanya atlet tertentu yang rajin menjaga penampilan saja mampu bertahan di usia setua itu.

Setelah gantung raket, Christian beralih menjadi pelatih. Ia ingin mewariskan "tradisinya": "menjadi pemain terbaik" kepada anak-anak asuhnya. Dari tangannyalah lahir pasangan-pasangan Ricky Achmad Subagdja/Rexy Mainaky, Gunawan/Bambang Suprianto, dan Denny Kantono/Antonius. Christian juga ikut membentuk Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Tony Gunawan/Halim Haryanto, yang dengan kombinasi pasangannya telah merebut emas di Olimpiade 2000 dan dua gelar juara dunia, tahun 1997 dan 2001, serta memberi fondasi yang kuat bagi pemain-pemain muda saat ini.

Kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia bulan Mei 2002 di Guangzhou semakin lengkap saat Christian Hadinata melangkah ke podium kehormatan dalam upacara yang khusus digelar baginya. Komposisi Pomp and Circumstances March karya Edward William Elgar (1857-1934) yang mengalun terasa megah mengiringi penganugerahan Hall of Fame-penghargaan tertinggi di dunia bulu tangkis-oleh Presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF), Korn Dabaransi.

Christian adalah orang Indonesia ketiga penerima penghargaan itu setelah Rudi Hartono dan Dick Sudirman. Atas penghargaan itu ia bersyukur pada Tuhan karena diberi berkat dan anugerah bisa bermain bulu tangkis. Itu adalah sebuah proses yang panjang, mulai dari menjadi atlet, pelatih, dan sekarang menjadi pengurus. Ia juga berterima kasih kepada PBSI yang sudah memberikan fasilitas kepadanya untuk menjadi atlet, pelatih, lalu menjadi pengurus. Semua itu merupakan tambahan motivasi yang mendorong dalam karirnya.

Meskipun telah mencapai prestasi tertinggi, baik sebagai pemain, pelatih, dan kini pengurus, Christian merasa belum belum sampai pada batas maksimal. Dari segi pribadi, ia merasa belum merasa "penuh" (fulfilled). Justru pada saat ini bulu tangkis dalam negeri cenderung dalam penurunan prestasi. Gambaran utuh prestasi itu bukan hanya supremasi di Piala Thomas. Piala Uber belum direbut, Piala Sudirman hanya sekali diraih yaitu di Jakarta tahun 1989. Masih ada gap antara pemain putra dan putri dengan kekuatan yang tidak merata. Ia sebagai bagian yang turut bertanggung jawab di pelatnas mengaku masih tidak puas atas pencapaian saat ini. Semuanya masih belum all out. Masih banyak lubang-lubang yang harus dibereskan.

Pribadi Christian dikenal sebagai sosok yang sederhana namun berkemauan keras dan tidak pernah puas. Itu yang membuatnya selalu memaksa diri selalu belajar. Belajar menjadi pelatih yang baik, belajar mengurus organisasi dengan benar, memikirkan konsep pembinaan bulu tangkis yang ideal, dan bahkan, belajar menghadapi wartawan dan menyampaikan pernyataan dengan lugas dan utuh sehingga tidak ada ruang bagi tumbuhnya spekulasi.

Proses belajar itu tidak selalu mulus. Terkadang, ia menemui benturan dan konflik dengan orang lain termasuk dengan pengurus dan pelatih di lingkungan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Bila sudah begitu, ayah dua anak, Mario (20) dan Mariska Hadinata (19) dan suami Yoke Anwar, ini memilih berintrospeksi dan berusaha memperbaiki diri lebih dulu.

Kesederhanaan itu ditunjukkannya dengan lebih mengutamakan pengabdian dan mencetak prestasi ketimbang mencari penghasilan yang lebih menjanjikan secara finansial. Hal itu yang membuatnya dari dulu sampai sekarang tidak tergiur dengan iming-iming melatih di luar negeri. Ia merasa inilah saatnya mengembalikan sesuatu bagi bulu tangkis, bagi organisasi PBSI. Karena, melalui bulu tangkis ia bisa mendapatkan banyak hal. Pengalaman pergi ke luar negeri, menjadi juara, mendapat penghargaan, dan lain-lain. Lalu ia berpikir, "apa yang bisa saya berikan dalam batas-batas kemampuan saya ini". Kalau berkiprah di luar negeri, ada rasa tidak nyaman di perasaannya. Ada yang mengatakan, kalau bekerja profesional tidak masalah mau bekerja di luar negeri atau di mana pun. Namun, menurut hematnya ada hal-hal lain di luar sekadar profesionalisme. Bisa saja bekerja hebat di Hongkong, di Malaysia, atau di mana pun. Namun semua itu adalah realitas semu baginya. Ketika Piala Thomas berhasil direbut, waktu Hendrawan menjadi juara dunia, perasaan itu sulit digambarkan. Kalau itu bukan bendera Merah Putih yang naik, lalu apa rasanya?

Meskipun tidak terlalu mengejar materi, namun tidak berarti hal itu tidak penting. Dengan jujur Christian mengaku materi itu penting juga buatnya. Namun, yang ia temukan di dunia bulutangkis itu lain. Ia mendapatkan penghargaan sosial dari masyarakat, dari lingkungan, yang semua itu susah diukur dengan materi. Ketika berjalan-jalan ada yang menyapa "O Pak Christian."

Penghargaan sosial itu ditemukan dalam sebuah pengalaman Christian yang cukup mengharukan. Ketika itu kejuaraan nasional di Banjarmasin tahun 2000. Ada seorang ayah dengan dua anaknya, kembar. Ditilik dari pakaiannya, mereka itu keluarga yang amat sederhana. Mereka lalu mendatanginya. Boleh foto? Ayahnya bertanya. Katanya, "Biar bisa jadi juara seperti Om Chris". Usia anaknya sekitar 7-8 tahun. Ia merasa sangat terharu. Ia juga sering mengalami hal-hal yang menyentuh seperti itu. Sekarang ini penghargaan di bulu tangkis sudah lumayan meskipun tidak bisa mengharapkan seperti di tenis profesional. Namun, sebagai profesi, harus lain (pendekatannya). Ia bisa saja membuka sekolah bulu tangkis dengan menarik bayaran. Dari segi tanggung jawab tidak berat karena murid-murid itu datang karena kemauan mereka sendiri. Hasilnya, bisa didapat secara lebih langsung. Tapi, secara moral ia belum bisa berbuat begitu.

Pilihannya berkarir di bulutangkis sempat membuatnya gamang, terutama apakah ia berani mengambil tanggung jawab penuh atau tidak. Sebab, risikonya sangat tinggi karena tradisi dunia bulutangkis Indonesia adalah prestasi. Tugas itu menjadi berat, karena siapa pun yang memegang bulutangkis harus bisa mencetak prestasi. Ia memang merasakan menjadi atlet yang beberapa kali meraih juara. Namun, apakah itu jaminan bisa mencetak pemain menjadi juara? Tuntutan seperti itu dianggap umum, hal biasa. Kalau pemainnya tidak bisa juara, artinya tidak bisa melatih. Namun ia berpikir bahwa dirinya harus mengembalikan sesuatu pada bulutangkis dan organisasi, tidak bisa kalau organisasi yang memberi, lalu ia lepas tangan. Ia tahu, tanggung jawabnya sangat berat.

Ketika pertama kali melatih, yang dilakukannya adalah mengumpulkan atlet-atlet yang akan dilatihnya. Pertama-tama ditanyakan apakah mereka bisa menerima dirinya, mau atau tidak didampinginya. Jawabannya harus jujur dan jangan karena ia sudah "punya nama", namun sebenarnya dalam hati mereka tidak setuju atau tidak cocok. Christian paham bahwa hal ini kelihatannya sepele, namun sebenarnya itu adalah inti masalah. Mau enggak bekerja sama, jadi sama-sama bertanggung jawab. Setelah itu ia menjabarkan program dan target yang akan dicapai. Anak asuhnya bebas mengemukakan kritik dan saran atas latihan yang dilakukan. Bersama-sama mendesain program. Mereka menjadi juara dan ia berkarier sebagai pelatih. Demikian juga soal menentukan pasangan di ganda didesain bersama-sama, lalu diadakan evaluasi bersama-sama pula. Dengan cara-cara itu, bisa dikatakan sedikit sekali ada masalah yang timbul.

Sekian lama malang melintang di sektor ganda, jelas memiliki resep tertentu yang dipraktikkan di lapangan. Christian menyebutkan, resep sukses bermain di ganda iatu adalah jangan sekali-kali merasa pintar sendiri, merasa lebih bagus dari pasangan. Diakuinya, bagaimana tidak gondok dan mangkel kalau pasangannya melakukan kesalahan melulu. Atau, ada semacam konflik kecil dengan pasangan karena sifat pribadi yang berbeda.

Ia juga senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan pasangannya. Ia pernah berpasangan dengan Liem Swie King dan juga dengan Icuk Sugiarto. King bertipe menyerang, sementara Icuk tipe bertahan. Dengan King, saya hanya memancing-mancing dengan bola-bola lemah sehingga lawan terpaksa mengangkat bola. King yang mengeksekusi. Ia selalu bertanya, pasangan mau main bagaimana? Jangan pasangan yang harus nurut pada saya. Kalau Icuk bertahan, ya, ia angkat-angkat saja bola biar dipukul lawan. Untuk itu, yang penting adalah bisa mengalah. Jangan sok pinter, karena nanti malah kalah. Jika kalah, maka dua-duanya kalah.

Sebagai pelatih, tak jarang Christian menghadapi pasangan yang bermasalah. Kepada mereka, ia mengambil kebijakan memanggil sendiri-sendiri dulu. Mencari letak persoalannya. Baru setelah itu mengajak bicara kedua pemain bersama-sama. Cara ini cukup ampuh meskipun tidak selalu berhasil. Ada pertimbangan dari sisi nonteknis, namun sisi teknis juga harus dipertimbangkan.

Sektor tunggal dan ganda putra Indonesia secara umum mengalami regenarasi yang lumayan mulus. Hal ini berbeda dengan sektor tunggal dan ganda putri. Problem sebaliknya terjadi dengan Cina di mana sektor putri lebih berkembang sementara ganda putra justru sedikit tertinggal. Negara-negara lain pun mengalami hal yang sama secara umum, yaitu tidak semua sektor mengalami regenerasi secara mulus. Dengan kondisi yang demikian, maka persaingan di dunia bulutangkis menjadi terbuka. Sebab, secara umum tidak ada yang menonjol sekali perkembangannya. Tugasnya sebagai Direktur Pelatnas PBSI adalah menyiapkan atlet yang siap bertanding dan kembali mengukir tradisi emas.

Sebagai orang yang bertanggung jawab mencetak pemain handal, Christian tentu perlu inspirasi mengenai figur yang sukses menelorkan para juara. Menurutnya, yang dianggap hebat adalah mereka yang bukan bekas juara, tapi bisa mencetak juara. Ini luar biasa. Seperti Angelo Dundee yang mampu melahirkan petinju legendaris Muhammad Ali sampai ke Mike Tyson. Kok bisa-bisanya, padahal karakter pemain bermacam-macam. Lalu, ia juga mengidolakan pemain sepak bola Franz Beckenbauer. Ketika dia bermain, Jerman juara dan ketika dia menjadi pelatih, Jerman juara lagi. Luar biasa.

Kritiknya ditujukan kepada banyak mantan pemain bulu tangkis nasional, meskipun dilakukan dengan maksud tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, yang sudah tidak bermain lagi malah meninggalkan begitu saja. Yang paling tidak enak dirasakannya adalah mereka memberi komentar dari luar yang menyudutkan dia dan teman-temannya yang di PBSI. Padahal, mencetak juara itu tidak semudah kelihatannya dari luar. Di sisi lain, sebagian dari pelatih di pelatnas bukan pemain-pemain berprestasi. Lihat saja nama-nama Herry Iman Pierngadi (pelatih ganda putra), Agus Dwi Santoso (pelatih tunggal), dan Richard Mainaky (pelatih ganda campuran).

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Cara Cepat Mendukung Pulau Komodo Menjadi 7 Keajaiban Dunia

Mari kita sukseskan dan dukung bersama Pulau Komodo menjadi 7 keajaiban dunia yang baru. Setelah Candi Borobudur menjadi keajaiban dunia kini saatnya Indonesia memiliki satu tempat yang akan dikenang dunia.

Caranya:

Cukup buka situs http:// www.new7wonders.com dan pilih Pulau Komdo sebagai 7 Keajaiban dunia baru.

Taman Nasional Komodo sementara ini berada dalam peringkat 13 untuk kategori Hutan/Taman Nasional/ Kekayaan Alam. Pulau Komodo harus menduduki peringat 1 dalam kategori tersebut untuk bisa masuk dalam tujuh keajaiban dunia baru karena yayasan new7wonders menentukan pilihannya berdasarkan jajak pendapat via internet.

Kita pernah kehilangan Candi Borobudur karena pada tahun 2007 kemarin hanya sedikit warga Indonesia yang berpartisipasi dalam memilih Candi Borobudur.

Saingannya adalah, Puerta Princesa di Filipina, Dinosaur Provincial Park di Kanada, Eua National Park di tonga, Okawongo Delta di Botswana, Amazon, Tree if Life, Bialowieza Forest, el Kala National Park, dan lain-lain.

Untuk itu marilah kita dukung Pulau Komodo dan biarkan masyarakat dunia tahu bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam dan tujuan destinasi dunia.

Hidup Indonesia…!!! Anda Setuju…!!!